Latar Belakang Konflik Ukraina Rusia

Krisis di Ukraina dimulai dengan terjadinya protes di ibu kota Kyiv pada bulan November 2013 terhadap keputusan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych untuk menolak kesepakatan kerjasama ekonomi yang lebih besar dengan Uni Eropa. Setelah tindakan brutal oleh aparat keamanan negara secara tidak sengaja memicu lebih banyak pengunjuk rasa dan konflik semakin memanas, Presiden Yanukovych meninggalkan negara Ukraina pada bulan Februari 2014.

Pada Maret 2014, pasukan Rusia mengambil alih wilayah Krimea, Ukraina, sebelum secara resmi mengambil semenanjung itu setelah warga Krimea memutuskan untuk bergabung dengan Federasi Rusia dalam sebuah referendum lokal yang dilakukan.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengutip perlunya melindungi hak-hak warga negara Rusia dan penutur bahasa Rusia di Krimea dan Ukraina tenggara. Krisis tersebut meningkatkan perpecahan etnis, dan dua bulan kemudian separatis Sbobet pro-Rusia di wilayah Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur mengadakan referendum untuk mendeklarasikan kemerdekaan mereka dari negara Ukraina.

Latar Belakang Konflik Ukraina Rusia

Pada Juli 2014, situasi di Ukraina meningkat menjadi krisis global dan membuat Amerika Serikat dan Uni Eropa atau UE saling berselisih dengan Rusia ketika sebuah maskapai penerbangan Malaysia Airlines ditembak jatuh di wilayah udara Ukraina, menewaskan sekitar 298 penumpang.

Penyelidik kecelakaan udara Belanda telah memberikan kesimpulan pada Oktober 2015 jika pesawat itu telah jatuh oleh rudal yang ditembakan dari darat dan buatan militer Rusia. Pada September 2016, para penyelidik mengatakan bahwa rudal itu milik Rusia. Oleh karena itu, pemerintah Rusia dikecam berbagai negara akibat tindakannya tersebut.

Pada April 2016, NATO mengumumkan jika aliansi mereka akan mengerahkan total 4 batalyon ke Eropa Timur, pasukan NATO datang melewati Estonia, Latvia, Lithuania, dan Polandia untuk mengantisipasi agresi Rusia di masa depan di tempat lain di Eropa, khususnya di perairan Baltik. Batalyon ini bergabung dengan dua brigade tank Angkatan Darat AS, yang diarahkan ke Polandia pada September 2017 untuk lebih meningkatkan kehadiran untuk mencegah agresi Rusia.

Sebelumya Ukraina telah menjadi sasaran sejumlah serangan siber sejak konflik dimulai pada tahun 2014. Pada Desember 2015, lebih dari 225 ribu orang dan ribuan tempat tinggal kehilangan aliran listrik di seluruh Ukraina karena sebuah serangan siber, dan pada Desember 2016 sebagian Kyiv mengalami pemadaman listrik lagi menyusul serangan serupa yang menargetkan sebuah Perusahaan pembangkit listrik di Ukraina.

This entry was posted in Berita and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.